Jangan Tertukar, Ini Bedanya Tempat Ibadah Budha dan Konghucu

Tempat ibadah Budha umumnya disebut vihara, sedangkan tempat ibadah Konghucu (juga ditulis Khonghucu dalam konteks kelembagaan di Indonesia) disebut litang. Kata kelenteng lebih cair karena dalam praktik masyarakat bisa merujuk pada vihara Buddha, litang Konghucu, maupun tempat ibadah gabungan beberapa tradisi Tionghoa.

Perbedaan Tempat Ibadah Budha dan Konghucu

Vihara berpusat pada penghormatan kepada Buddha dan bodhisattva, dengan penekanan pada pembinaan batin dan perbuatan baik. Litang berpusat pada penghormatan kepada Tian sebagai Tuhan, Nabi Kongzi, serta leluhur.

Perbedaan ini terlihat dari susunan altar, tokoh yang ditempatkan di ruang utama, dan jenis upacara yang rutin diadakan.

Aspek Khonghucu Buddha
Nama tempat Litang Vihara
Tokoh utama Tian, Kongzi, leluhur Buddha dan bodhisattva
Kegiatan ibadah Sembahyang, penghormatan leluhur, pembinaan moral Puja, meditasi, pembacaan paritta atau sutra

Mengapa Keduanya Sering Dianggap Sama

Banyak bangunan tua di Indonesia dipakai bersama oleh umat Buddha, Konghucu, penganut Taoisme, dan penghayat kepercayaan rakyat Tionghoa. Akibatnya, satu kelenteng bisa memiliki beberapa altar dengan fungsi berbeda.

  • Arsitektur Tionghoa yang mirip, warna merah dan kuning, lampion, serta ukiran naga.
  • Penggunaan dupa dan lilin di kedua tradisi sebagai sarana penghormatan.
  • Istilah kelenteng dipakai masyarakat untuk banyak bangunan ibadah Tionghoa tanpa membedakan agama pengelolanya.

Cara memastikan fungsi tempat tersebut cukup praktis:

  • Baca papan nama resmi, apakah tertulis vihara, litang, atau kelenteng.
  • Lihat altar utama, apakah rupang Buddha atau papan penghormatan Tian, Kongzi, dan leluhur.
  • Tanyakan pengelola mengenai jadwal ibadah dan tradisi yang diikuti.

FAQ

Apakah kelenteng selalu tempat ibadah Konghucu?

Tidak, kelenteng bisa menjadi vihara Buddha, litang Konghucu, tempat ibadah Taoisme, atau tempat bersama beberapa tradisi.

Bolehkah umat Buddha dan Konghucu berdoa di tempat yang sama?

Bisa, terutama di kelenteng bersama, asalkan mengikuti tata cara tempat tersebut dan menghormati tradisi tuan rumah.